Pertumbuhan kredit perbankan pada tahun 2009 jauh dari realisasi target Bank Indonesia (BI). Padahal, jika dilihat dari tingkat likuditas sebagai faktor utama perbankan menyalurkan kredit, sama sekali tidak mengalami kekeringan. BI mencatat, pertumbuhan kredit hingga bulan November 2009 hanya tumbuh sebesar 5,6% (y-t-d) sementara itu dari modal atau (CAR/Rasio Kecukupan Modal) dalam periode yang sama juga tercatat tetap kokoh berada di 17%. Perbankan bisa lebih deras mengucurkan kreditnya jika dilihat dari aspek likuiditas. Ditambah jika dilihat dari profil income, statement bank-bank nasional juga menyatakan saat ini mereka dalam kondisi bagus. Karena rata-rata mencatat laba yang positif di kuartal III-2009," ungkapnya dalam diskusi Proyeksi Ekonomi 2010. Pertumbuhan laba perbankan yang cenderung positif diperoleh bukan dari lending kredit. "Padahal core suatu perbankan yakni melakukan intermediasi dengan memberikan kredit kepada yang membutuhkan.

Perbankan, ternyata dominan memperoleh laba dari fee based income. Menurut Ryan fee based tersebut ditopang dari pendapatan penempatan dana di surat berharga. Perbankan yang enggan melakukan intermediasi tersebut yang menyebabkan sektor riil sulit bergerak. Tahun 2009 sudah menajdi tipikal perbankan di Indonesia untuk sulit memberikan kredit yang menyebabkan sektor riil sulit tumbuh. Sekitar 40%-50% dari kegiatan perbankan yakni memperoleh pendapatan dari fee based income bukan dari pemberian kredit. Ini sebenarnya tidak related dan ini typical perbankan di Indonesia. Kedepan, BI sebagai regulator harus bisa mendorong perbankan nasional agar melakukan intermediasinya dengan baik. "Sehingga, mereka dapat bersama-sama menggerakan sektor riil dan perekonomian bukan hanya menempatkan dananya di surat berharga saja.


sumber : detik.com

Comments (0)